Mei 10, 2009

Happy Mother's Day

Dedicated for mothers around the world

Perempun: Sesama Penyandang Gambar Allah
Dirangkum dari Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, Yongky Karman, BPK GM

Menurut PL, perempuan dan laki-laki setara namun berbeda. Baik laki-laki maupun perempuan sama martabatnya sebagai manusia, sebelum maupun sesudah Kejatuhan (Kej 5:2), sebagai penyandang gambar Allah. Manusia, laki-laki dan perempuan, diciptakan menurut gambar Allah dalam posisi setara tanpa hierarki. Kesetaraan laki-laki dan perempuan juga terlihat dari fakta bahwa keduanya mendapat mandat yang sama dari Tuhan untuk beranak cucu dan menguasai alam (Kej 1:26, 28-29). Laki-laki tidak diciptakan untuk berada di atas perempuan atau sebaliknya di bawahnya. Inilah gambaran ideal tentang martabat laki-laki dan perempuan menurut PL.

Dengan dijadikannya laki-laki dan perempuan sejak awal, jelaslah bahwa perbedaan jender bukan untuk saling dipertentangkan, melainkan sebagai pembeda identitas seksual dalam rangka jalan hidup manusia untuk menikah. Sekalipun Tuhan memberkati kesatuan manusia dalam perkawinan, tidak berarti menikah otomatis lebih bahagia. Di dalam dunia yang berdosa, kebahagiaan perkawinan tidak datang dengan sendirinya. Suami-istri masih harus bekerja keras mengupayakan dan memelihara kebahagiaan rumah tangganya.

Kesetaraan antara lelaki dan perempuan tidak perlu dimengerti secara dangkal sebagai kesamaan dalam segala peran dan aktivitas. Emansipasi wanita pertama-tama bukan berarti yang dilakukan pria juga harus dilakukan perempuan. Laki-laki dan perempuan dijadikan dengan konstruksi tubuh dan kapasitas yang berbeda. Otot lelaki, misalnya, lebih banyak 10-12% daripada perempuan dan perawakan tubuh lelaki umumnya juga lebih besar, sedangkan otot dan tubuh perempuan lebih halus. Laki-laki dan perempuan sama-sama penyandang gambar Allah, namun tidak menyatakan terbalik bahwa Sang Pencipta mirip makhluk ciptaan-Nya dalam hal jender.

Yang hendak ditekankan dalam istri menjadi “penolong yang sepadan”adalah kendati kesetaraan martabat lelaki dan perempuan (Kej 1:27), suami dan istri tidak berjalan sendiri-sendiri melainkan bersatu dalam kontribusi yang berbeda, saling bergantung, dan saling melengkapi. Tak ada subordinasi martabat. Istri lebih berperan sebagai penolong yang sepadan, yang berinisiatif, yang setia, yang paling mengerti, yang paling cocok bagi suaminya. Kalaupun kedudukan suami sebagai kepala RT, ini tidak harus dimengerti sebuah bentuk dominasi hubungan suami-istri, tetapi secara sosiologis memang diperlukan kepemimpinan dalam keluarga dan untuk itu suami diposisikan untuk memimpin keluarga. Namun, kita semua tahu dalam keluarga yang harmonis dalam prakteknya pengaturan kehidupan RT lebih merupakan tanggung jawab bersama (shared responsibility), bukan berasal dari hubungan penguasa-yang dikuasai.

Boleh dikatakan Kidung Agung menggambarkan dinamika hubungan pria-wanita seandainya dosa tidak merusak kemurnian cinta. Bukannya secara kebetulan, Paulus menggambarkan kuat dan dalamnya ikatan hubungan suami istri seperti hubungan Kristus dan jemaat (Ef 5:21-33). Dalam nasihat perkawinannya itu dikatakan bahwa penyerahan diri Kristus adalah dalam rangka menguduskan jemaat (ay. 25-27),menyiratkan ada problem dosa yang harus dibereskan. Seharusnya, perkawinan di antara orang Kristen yang sudah ditebus Kristus mempunyai potensi yang sangat besat untuk bahagia dan kembali kepada kesatuan ideal suami-istri seperti dalam Kej 2:23-25.