Mei 07, 2009

Duh, Jenuh dan Mandek Neh..

Bosan, jenuh, dan mandek. Semua orang tentu pernah mengalaminya. Beberapa orang berasumsi bahwa semua itu disebabkan oleh rutinitas yang itu-itu saja, karenanya mereka mencoba mengatasinya dengan refreshing. Tetapi setelah kegiatan refreshing itu selesai, mereka kembali merasakan kejenuhan dan mandek lagi. Jika refreshing ini tidak berhasil, tentu ia bukanlah jawaban atas kejenuhan dan kemandekan kita. Lalu apa sebenarnya yang harus dilakukan jika kita merasa jenuh dan mandek? Hanya ada satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasinya: Periksalah motif-motif Anda dalam setiap kegiatan yang menjenuhkan tersebut. Tanyakan pada diri sendiri mengapa semangat dalam sekolah, pelayanan, kuliah, atau pekerjaan kini menjadi datar dan mandek serta tidak membuahkan rasa puas yang biasanya dirasakan.

Ketika seorang pelayan atau karyawan melakukan tugasnya dengan motif melayani, karena ia suka melayani, ia akan melakukan tugasnya itu dengan baik. Ia akan melayani jemaat dan juga kliennya dengan senang. Tetapi jika motifnya telah berubah, ketika nilai-nilai kehidupan yang dipegangnya telah berubah, maka berubah juga perasaan senangnya. Ini adalah sebuah pertanda dari hati bahwa motif baru yang mendominasi tersebut tidak benar lagi. Jika sudah begitu, ini tandanya kita perlu untuk membaharui motif kita.

Sebagai orang Kristen, kehidupan kita tidak terlepas dari firman Tuhan, tak terkecuali motif kita dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Kolose 3:23 berkata “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ini berarti apapun kesibukan yang kita hadapi, kita harus melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan karena motif-motif lainnya. Sebab motif pribadi kita tidak akan kuat bertahan jika menghadapi ujian, tetapi jika motif kita adalah Tuhan, maka ujian sebesar apapun akan sanggup kita hadapi.

Misalnya ketika seseorang malas belajar, tanyakanlah apakah motivasinya untuk memuliakan Tuhan lewat prestasinya kini telah berubah karena motif-motif lain seperti karena ia sudah merupakan anak paling pintar di sekolahnya? Contoh lainnya lagi adalah ketika seseorang yang sebelumnya mempunyai motif kerja untuk memuliakan Tuhan dalam karirnya, tetapi kini telah berubah menjadi motif keberhasilan, pengakuan, dan jaminan. Tentu saja seiring waktu ketiga hal ini akan menimbulkan masalah dalam hatinya sebab hati nurani tidak akan mentolerir hal-hal asing mendominasinya. Keberhasilan, pengakuan, dan jaminan ini memang baik, tetapi ketika mereka mengambil alih pikiran kita, tentu saja hati nurani ini akan berontak dan membuat perasaan tidak enak. Keberhasilan, pengakuan, dan jaminan hanyalah hadiah dari Tuhan ketika kita bersungguh-sungguh ingin memuliakan Tuhan lewat karir kita, tetapi itu bukan tujuan utama kita. Jangan sampai kita terjebak di dalamnya. Karena itu adalah penting bagi setiap orang untuk mencoba membaharui motif di hadapan Tuhan sesuai dengan firmanNya jika rasa mandek atau jenuh itu datang.

Selama motifnya adalah Tuhan, Anda akan melakukan pekerjaan, belajar, dan melayani dengan baik entahkah Anda adalah seorang penjual di pasar, asisten direktur, ibu rumah tangga, sales, ketua OSIS atau hanya murid biasa, sebab hal itu sesuai dengan hati nurani dan kehendak Tuhan. Tetapi jika motif itu telah berubah dan menjadikan diri Anda sebagai pusatnya, Anda akan mengerjakannya dengan kurang baik sebab Anda tidak lagi mengikut-sertakan Tuhan dalam keseharian Anda. Berusahalah untuk peka terhadap setiap perubahan kecil yang terjadi dalam hati anda karena ia adalah pengukur dari lurus atau tidaknya jalan Anda di hadapan Tuhan.